Senin, 11 Maret 2013

Share Kisah Hikmah ~ Rengkuh Aku Dalam Ukhuwah Mu~

Assalamualaikum.wr.wb
hanya sekedar berbagi dan bercerita..
sekiranya kisah ini dapat menjadi cukup pelajaran berharga untuk kamu yang memiliki sahabat ^^
sebuah kisah nyata..

~Kita Masih Bersahabat sampai di Syurga Nanti~

"rai, kalo kita lulus nanti kita masuk smp yg sama yah di kota, aku mau rasain sing kehidupan kota tuh kumaha yah? Tapi kita satu sekolah yah.. Aku gak mau kalo sendirian.."
Lirih suara itu bgtu ku ingat..
Mata ku rasany mash ingin menangis, malah lebh deras lagi sampai tak terasa sajadah ini basah karna air mata kerinduan.
Aku masih ingat jelas janji itu, reza sahbt kecil ku yang mengajari ku byak hal terutama menempati janji kita. Tapi kini, ahh.. Rasanya ingin ku peluk ia erat, ingin ku raih kembali jari jemariny dalam persahabatan kecil ini, ingin sekali aku mengatakan, "aku merindukan mu za, aku merindukan persahbtan kita yg dulu, ketika berlari bersama menuju beranda masjid, ketika kau mengajari ku carany mencintai adik2 kecil kita untk mengajari mereka sepatah kata ayat Allah, ketika kau rela membantu ku dalam keadaan tersempit sekalipun, ketika aku pun mampu memblas bntuan mu karena itsar kita yg kuat, ketika persahabatan kecil ini kupelajari dari mu, dan ketika terakhr kau pergi dgn teman mu yg baru dan melupakan persahbtan kita serta berubh dari reza yg dahulu ku kenal.." air mata ku tak mampu lg ku tahan.
Aku tau mgkin ini berlebhn untk sebgian pria yg saling bershbt, apalg kita mash duduk di sekolah dasar, apa mgkn pemikiran ku yg terlampau dewasa, terserah lah apa kata mereka dan apa kata dya dgn ini semua, yg terpenting aku sangat menyayangi dy sbg shbt ku yg kutemukan ia ketika aku belum tau tetang dunia dan kita mengartikany bersama2. Ah.. Mgkn itulah yg tak pernah bisa ku lupakan. Sahbt kecil ku, saudara ku, bahkan seperti keluarga ku sendiri.

Pagi menyingsing, berasa ingin menyampaikan kabar baru lewat senyuman mentari. Mata ku lembam, seperti orang yang menangis semalaman, yah mgkn memang itu lah yg terjadi.. Tak perduli, rasany hari ini ingn ku kabarkan dan kembali ku balas senyuman mentari itu, ah.. Aku lega ya Allah telah mencurahkan kerinduan ku semalam, dan telah ku titipkan salam perpisahan ku untukny lewat sajadah yg basah itu. Yah.. Hari ini, akan ku buka kehidupan remaja pertama ku dikota yg dulu kita janjikan, kota besar di sebelah desa ini, kota Jakarta walau tanpa dya..

Aku tak bermaksud meninggalkany sendiri, apalg dalam keadaan ny yg seperti ini, rasany bru ku dengar kbar dari bu le' kalo dy akan melanjutkan sekolahny di desa ini bersama temany yg bru, yg tak pernah ku tahu dan merka pun tak pernah kenal dgn ku. Ah.. sekali lagi aku memang sedikit menyesal dan kesal dengannya, walau dya berubah, walau dya sudah bertemu dengan teman barunya, walau dya sudah tersenyum dengan masa remaja nya yang baru, walau dya kini melupakan ku, aku masih tetap menjadi sahabatnya, masih mendengarkan semua keluh kesahnya dan masih sempat memberinya berbagai solusi walau hanya sekedar didengar tapi tak dianggap.
Sedih rasanya melepas persahbtan ini, entahlah.. Aku mash mengingat kata2ny dan janji kita, hanya itu yang mampu ku lakukan walau harus kehilangan dy tapi setidakny aku tidak pernah kehilangan cita2 dan semangatny yg luar biasa. Aku kagum dgn dy yg lembut dalam mengajar, semangat dalam ibadah, ceria dalam keadaan apapun, dan entah lah kini rasany dy bgtu jauh berbeda,, berbeda..
Dan aku pun harus rela melepaskan adik2 kecil ku di mesjid desa belajar sendiri, atau mgkn menunggu sang guru itu kembali mengajar..

Ya Allah kembali ku titip ia dalam naungan Mu yg Maha Agung..
Ku harap kelak ia mengerti dan merindukan ku pula.

Ku tulis sebait surat untkny, karena memang akhr2 ini dy sangat sulit ku temukan.

Assalamualaikum.wr.wb
Untuk sahbt ku..
Aku mash menepati janji kita, dan aku merindukan mu sahbt..
Aku titipkan adik2 kecil kita pada mu, ku harap sang guru mereka kembali mengajar dan aku harap kau mengerti kenapa aku harus pindah ke solo. Janji kita.
Terimakasih za berkenan membaca surat ku.
Wassalamualaikum.wr.wb

Surat singkat itu ku titipkan ke bu le', dan akhrny sore ini ku lepaskan langkah ku dan pindah ke kota.

**
Pagi dijakarta rasanya tak se nyaman di desa tercinta, ah.. Kalo inget desa pasti inget reza.
Ya Allah gmana kbr dy hari ini?
Setelah 2 blan kami berpisah dan bersekolah di kota yg berbeda.

Pagi ini ponsel ku berdering..
Tutttt tuttttt..
Pikir ku sejenak bukan dari siapa2 tp ternyata..
"Assalamualaikum raiha, aku mau minta maaf sama kamu. Aku udah salah gak nepatin janji kita, aku yg kehilangan kamu ha, aku minta maaf bgd sama kamu.. Raiha? Raiha? Raiha? Apa kamu mau maafin aku? Ku mohon ha…."
Terdengar dari sebrang sana, dy spertinya sangat menyesal. Tp rasanya aku tak mampu berbicara sepatah kata pun, entah karena kesal, marah, rindu, atau bhgia.. Yg pastiny aku hany mampu meneteskan air mata ku di balik telpon ini tanpa sepatah kata pun yg terucap..
Dan akhrny..
Tut tut tut,
Seketika telp itu mati, dan hilang sudah kesempatan ku untk dapat berbicra dgn ny.
"reza maafin aku" lirih ku dalam hati “dan aku telah memaafkan mu”.

Seminggu setelah telpon itu berlalu, malem itu ketika sejadah di kota kembali basah dengan kerindungan dan penyesalan yang selalu datang di akhir cerita. Yah.. sedikit menyesal tak mampu berkata apa-apa saat dya menelpon.”Ya Allah, sungguh aku ingin menghabiskan masa remaja dengannya, aku ingin memiliki sahabat seperti dya lagi, aku ingin masa remaja tidak menjadi masa ku untuk mengumpulkan banyak dosa, aku butuh dya untuk terus mengingatkan ku.” Kembali ku curahkan segala isi hati ku kepada-Nya, karena memang hanya Allah lah tempat curhat yang paling aman, nyaman, dan lega rasanya kalau kita bisa curahkan semua pada-Nya,. Ya Allah, mungkin Engkaulah satu-satunya sahabat yang tak pernah mengecewakan dan menyakiti.. bersyukur aku pada-Nya, “Alhamdulillah.”

Mata ku yang lembam, membawa ku tak mampu lagi terjaga. Aku masih di atas sejadah ini, dan masih pula tertidur di sini..
Seketika..
“Astagfirullahaladzim..”
Tersentak aku dari tidurku,” ya Allah mimpi apa aku barusan..”
Aku melihat reza menangis di hadapan ku dan begitu tulus meminta maaf.
“ada apa yah?” fikir ku khawatir padanya. Akhirnya ku putuskan untuk kembali ke desa dan menemuinya.

**
Pagi ini tak seindah pagi biasanya. Mendung menyelimuti Jakarta, tapi terasa tenag seperti tak ada sedikit pun aktivitas.
Entahlah..
Sememndung apapun Jakarta, seharusnya aku tetap bahagia karena hari ini aku akan bertemu dengan sahabat ku, kembali memeluknya erat, dan mengajaknya menepati janji kita yang dulu yah.. bersekolah di kota dan menghabiskan masa remaja bersama-sama.
Ingin ku ceritakan, “adik- adik ku di Jakarta tak seantusias adik-adik kita di desa, mereka lebih senang bermain daripada belajar, aku agak risih sebenarnya, tapi kembali ku ingat kelembutan mu dalam mengajar membuat ku menjadi semangat mengajar mereka, ku ubah metode belajarnya, dan akhirnya mereka senang belajar dengan ku. Aku ingin mengajak mu untuk mengajar mereka, akan ku kenal kan mereka oleh “sang guru” yang tak pernah menyerah.” Sepanjang jalan itu, rasanya sudah ku susun skanario kecil untuk berbincang hangat dengannya, terbayang jelas wajahnya yang sangat ku rindukan.

Desa ini begitu sejuk, 6 bulan sudah meninggalkan desa ini tapi masih terasa sama dengan yang dulu. Entah lah, aku langsung berlari menuju rumah reza dengan harapan dapat member surprise dan membuatnya tersenyum.
Tapi ternyata, mendung yang menyelemuti ku sepanjang perjalanan tadi mengabarkan sebuah cerita dan skanario yang berbeda. Benar, jikalau manusia yang berencana maka Allah lah yang tetap berkhendak.
Kini rasanya, desa ini begitu penuh tangisa, terutama tangis ku yang meledak mendapat kabar duka dari ibu reza atau yang biasa ku panggil bu’le, kalu reza…
“bu’le.. reza nya mana bu’le?” wajah ku masih penasaran dan se ceria skanario ku.
“nak, sing sabar sing tawakal yah nak, reza sudah kembali pada Gusti Allah.” Air mata bu ;le terasa belum kering semenjak 3 hari yang lalu kehilangan anak tercinta satu-satunya.
“Apa bu’le? Bu’le raiha serius? Jangan bercanda lah bu’le?” senyum itu seketika menjadi gledek yang kemudian membuncah semua air mata ku, “ya Allah.. aku menyesal sungguh aku menyesal ya Rabb.”
“bu ‘le serius toh nak.” Rasanya selain aku, air mata bu’le pun kembali menumpah ruah.
“rezaaaaaaa…. Kenapa kamu pergi? Aku belum sempat menemui dan mebalas maaf mu..” tangis ku tak mampu berhenti.
”kenapa bu ‘le? Reza kenapa ?”
“raiha, reza setelah menelpon dya ingin menyusulmu ke Jakarta untuk meminta maaf dengan mu, katanya lewat telpon saja tak cukup, akhirnya dya putuskan menyusulmu, dan ketika di jalan Allah berkhendak lain, motor yang ditumpanginya menabrak sebuah truk. Alhasil, dya meninggal di tempat. Ini bukan salah mu nak, ini semua takdir gusti Allah.” Bu ‘le menyekat air matanya, dan ingin menunjukan bahwa dya adalah wanita yang tegar.
“ bu ‘le? Kenapa bu ‘le gak ngabarin sejak kemarin?”
“ndak nak. Kemarin jaringannya sedang tak bagus dank au susah di hubungi.. jadi biar nanti saja Allah yang titipkan kabar ini.”
Hancur, retak, kecewa, sungguh rasanya hati tak lagi mampu berkata apa-apa berada di atas pusara reza. “reza, aku sudah memaafkan mu, dan sampai di syurga kita masih bersahabat.”
Lirih ku disamping pusaranya.

Kini, aku lanjutkan perjuangan ku dikota ini sendiri tanpa dya. Aku tak pernah menemukan sahabat sebaik dya, se lembut dya, se semangat dya, dan semua yang ada di dirinya..
Tapi sekarang, dya seperti menitipkan jiwa mengajarnya padaku, kelembutan dan kesabaran dalam mengajar begitu melekat dalam diri ku. Mungkin ini lah yang di namakan persahabatan sejati, atau kata pak guru agama ku inilah ukhuwah sampai di syurga.. yah.. semangatnya pun tak pernah lepas dari diri ku kini..

Begitu lah persahabatan, ketiak kita menemui seseorang yang mampu membawa kita pada kebaikan, yang mampu menjadi inspirasi buat kita dala menempuh jalan dakwah, maka.. itu lah dya saudara mu, sahabat mu, bahkan dya adalah keluarga mu ketika di syurga.. jangan lepaskan ia, karena menemukan orang sperti mereka tidak mudah, apalagi ketiak mereka sudah tak ada lagi dunia, semua akan menjadi sulit. Ketiak persahabatan mu mencapai titik jenuh, maka jangan jauhi dya, jikaulau dya tetap menjauhi mu, jaga terus ikutan itu, karena hati nya dan hati mu adalah milik Allah, Dia dapat mebolak-balik kan hati mu apabila kamu benar2 berdoa pada-Nya. Ingatlah.. persahabatan, ukhuwah, atau persaudaraan itu gak pernah mulus, adakalanya jenuh, adakalanya bertengkar, adakalanya terlupakan.. kita hanya manusia yang tak luput salah dan dosa, sebelum itu intropeksi dirilah. Dan kembali INGAT ! penyesalan tak pernah berada di awal cerita tetapi pasti di akhir cerita.

**
Tengoklah sahabat-sahabat mu barang sebentar, mungkin ada hal kecil yang tak mampu kalian saling ungkapkan. hal kecil yang nantinya menjadi sebuah penyesalan. ingatlah sahabat, persahabatan yang paling kuat hanyalah persahabatan karena-Nya.. Rindukah kamu terhadap sahabat mu? Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba Nya yang selalu bersyukur..
InsyaAllah Aamiin.


NB : tulisan pertama diambil dari sebuah kisah nyata seorang teman dengan penambahan, maaf apabila ada kata yang salah.
created by: Fb : @ummi just ummi

wassalamualaikum.wr.wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar