Minggu, 05 Februari 2017

Cerpen



HUJAN DUIT
Oleh Al_Izzah

 
Ilustrasi gambar, sumber google

Sore ini mendung menggantung dilangit kota Bogor. Sudah beberapa hari lalu, hujan tidak pernah absen untuk menyapa bumi yang gersang ini. Entah mengapa, aku juga tak pernah sadar bahwa kota ini adalah kota hujan. Hingga hari ini, aku tak pernah membawa payung kemana pun aku pergi. Padahal sudah berkali-kali diingatkan banyak orang, “Kamu kok gak pernah bawa payung sih?” aku hanya tersenyum.

Tidak seperti biasanya, kali ini dosen menjelaskan kuliah lebih lama, katanya penghabisan materi sebelum UTS (Ujian Tengah Semester). Aku menengok jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan sebelah kiri ku. “Sudah jam 4 lewat. Aku harus pulang.” Keluh ku dalam hati. Biasanya aku bisa berlama-lama dikampus sampai malam, tapi berkas-berkas beasiswa ku ketinggalan di kosan dan malam ini adalah deadline pengumpulannya. Berkali-kali mahasiswa berdehem mencoba mengingatkan dosen yang antusias sekali menyampaikan materinya karena satu setengah jam telah berlalu dari jadwal kepulangan kami seharusnya. 

Usai sudah kuliah hari ini. Satu persatu mahasiswa membuyar keluar kelas dengan perasaan lega. Lebih dari empat jam dikuliah terakhir, kami hanya duduk  memperhatikan dosen. Entah seberapa kedap suaranya kelas kami sore ini, hingga hujan deras sekalipun tidak kami dengar.

  “Yah Hujan.. Deres banget lagi ” lemas sudah sendi-sendi tubuh Ray saat antusiasnya untuk pulang tertahan karena hujan.

 “Kok kamu gak bersyukur Ray? Hujan kan rahmat.” aku mencoba menghibur Ray yang terduduk lemas didepan kelas.

“Bagaimana aku bisa bersyukur, jadwal hari ini padet banget ta, aku harus ke beberapa tempat sebelum malam, mana dosen tadi lama banget selesainya” matanya berkaca-kaca, aku tau betapa tinggi mobilitasnya sebagai aktivis kampus.“kamu sendiri bukannya harus mengambil berkas beasiswa ta? Kan malam ini harus kamu kumpulkan ke sekretariatannya?” 

“Eh iya yah.. aku sampai lupa ray. Hm.. kalau rejeki ku insyaAllah akan Allah mudahkan jalannya, tapi kalau bukan yah mau bagaimana lagi.” lagi-lagi aku hanya tersenyum, rasanya hujan dari mataku hendak mendarat di pipi. Sudah tiga kali aku gagal mendapatkan beasiswa, semoga ini bukan yang keempat kalinya. “Ray, doa yuk.”

Udara dingin menelusup ke dalam sendi-sendi tubuh kami. Hujan kali ini bau nya khas sekali. Bau rerumputan yang dipadu dengan tanah di taman kecil depan ruang kuliah kami. Kali ini, hujan benar-benar deras disertai petir yang gagah menggelegar. Satu dua mahasiswa nekat menerobos hujan tanpa menggunakan payung atau pelindung anti air lainnya. Tapi kami tidak mungkin menerobos hujan, mengingat ada banyak tempat yang harus Ray kunjungi setelah ini. Setengah enam sore, dan hujan belum juga reda.
“Sita, kok kamu seneng banget kalau turun hujan? Tapi kamu gak pernah bawa payung juga, dan gak mau juga kehujanan?” Ray memainkan hujan memalui jari jemarinya yang putih. Sesekali keisengannya muncul, hujan yang ia tampung di tangannya mendarat ke wajah Sita.

“Ray udah ah.. basah tau” balas ku ketus. Dan Ray hanya tertawa bahagia.

Entahlah, bagaimana bisa aku begitu merindukan hujan dan bahagia saat hujan hadir ke bumi Allah ini. Aku teringat saat liburan semester tahun lalu. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi menggerutu karena hujan. 

****

Sore di salah satu taman wisata kota Bogor ini begitu padat. Hampir setiap lahan hijau tidak lagi tetlihat hijau, melainkan ada alas duduk berwarna-warni di atasnya. Selain itu, beberapa keluarga tengah asyik bercengkrama dengan tawa bahagia. Satu dua muda mudi berfoto dipinggaran danau yang terhampar dan memantulkan cahaya jingga dari senja. Sebuah rombongan besar yang kelihatannya romobongan anak sekolah dasar, bermain dan bernyanyi lagu anak-anak. Terpancar jelas di wajah pengunjung saat itu, kealpaan hujan sore ini menjadi kebahagiaan tak terkira. 

Tepat pukul empat sore, dan aku belum juga mendapatkan apa yang ku cari. Hunting foto di tempat seramai itu memang akan sangat melelahkan. Setiap sudut tempat wisata sudah kami jajaki. Namun ada satu tempat yang menarik perhatian ku, dan membuatku betah berlama-lama, bahkan aku berharap hujan turun sore itu. Beberapa anak kecil hinggga usia remaja tanggung duduk-duduk di tepi jembatan merah. Mereka membawa payung-payung besar berwarna-warni. Pakaian mereka tidak sebagus pengunjung lainnya, bahkan beberapa dari mereka tidak beralas kaki. Aku  hanya termangu melihat keceriaan mereka dari pohon besar di bawah jembatan merah itu. Sesekali ku mainkan kamera ku dan membidik mereka dari bawah jembatan. Tingkah mereka yang unik dan natural membuat ku tidak mau meninggalkan tempat.

Senja semakin meredup. Sebelah selatan langit kota Bogor ternyata sudah di sesaki dengan awan hitam. Angin menghembuskan nafas-nafas hujan disini, namun seutuhnya langit masih berwarna jingga. Aku melihat jam tangan hitam dipergelangan kiri ku. Angka panjang sudah menunjuki pukul lima sore. Namun cahaya matahari meredup lebih awal, suasanan yang kami rasakan seperti pukul enam sore, lebih gelap dari biasanya.
Sedangkan dari atas jembatan merah, anak-anak yang sedari tadi ku perhatikan mulai turun satu persatu. Wajah mereka tampak lebih ceria  dari satu jam sebelumnya. Kaki-kaki mereka yang mulai kehitaman, dengan lincah berlarian di antara para pengunjung. Mereka ternyata telah siap dengan posisi dan tempat masing-masing. Seperti sudah mereka rapatkan bersama-sama, bahwa setiap orang memiliki wilayah yang tidak boleh saling melampaui. Aku masih memperhatikan gerak-gerik mereka dibawah pohon besar, di bawah jembatan merah.

Butir-butir bening dan lembut mulai membasahi setiap helai dedaunan. Hujan sudah mulai deras, namun aku masih termangu melihat anak-anak kecil berpayung besar mulai melakukan aksinya. Satu dua orang menawarkan payung-payung besar itu pada  segerombolan keluarga yang mulai berlarian mencari tempat berteduh. Ada juga yang menawarkannya pada sepasang sejoli yang kelihatannya lupa membawa payung. Ada juga yang menawarkan beberapa orang yang berlari ditengah deras hujan seorang diri. Satu dua penawaran ditolak mentah-mentah, yang lainnya mendapat sambutan hangat dan penerimaan yang baik. Sedangkan si pemilik payung, kuyup di guyur hujan demi mendapatkan selembar uang. Namun, tidak ada wajah yang bersedih, yang ada hanya senyuman bahagia saat payung mereka berhasil mendapatkan penghuni barunya.

Hujan mulai membasahi kamera yang sedari tadi ku gunakan untuk mengenang ketangguhan mereka. Terpaksa aku harus memasukan semua barang-barang ku kedalam tas dan mulai mencari tempat berteduh lainnya. Sayang, hujan tidak memberikan ku kesempatan berlari, meski hanya sedetik. Seorang anak kecil berbaju coklat menghampiri ku. Payung ungu besar itu lebih pajang dari tubuhnya yang mungil. Terlihat sekali payung itu lumayan berat, ia menyeretnya sambil setengah berlari. Aku terhenyak dari lamunanku saat ia menyodorkan payungnya pada ku.

“Kakak, payungnya kak. Nanti kakak kehujanan” senyumnya begitu manis, wajahnya mulai pucat kedinginan, kakinya yang tidak beralas, mulai putih keriput, begitupun dengan jari-jemarinya yang  mungil. 

“Iyah dek.. berapa harga payungnya?” payung besar berwarna ungu itu masih terlihat bagus. Aku berjalan dibawah payung besar itu bersama adik bernama Raihan. Ia menceritakan banyak tentang dirinya dan keluarganya. Sudah lama Ia mencari uang dengan cara seperti ini. Rumahnya tidak jauh dari tempat wisata, berada di dekat Pasar Baru. Ia memiliki adik yang masih bayi, sedangkan ia masih sekolah dasar. Kegiatan seperti ini hanya dilakukan ketika selesai pulang sekolah dan hari libur. Uangnya akan diberikan untuk membantu ibunya yang hanya berjualan kue keliling dan ayahnya telah meninggal. Ia juga menggunakan uang itu untuk membiayai sekolahnya.

“Kak, aku iri sama mereka.” Ia menunjuk segerombolan keluarga yang berteduh di bawah tenda sebuah kantin besar. Kami terus berjalan menuju parkiran, tempat aku dan beberapa temanku memarkirkan motor yang kami gunakan.

“Kenapa kamu iri dek?” tanya ku penasaran dengan sedikit memperhatikan matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Aku juga mau liburan seperti mereka, aku juga mau punya ayah dan ibu yang lengkap” ia mengusap airmatanya dengan lengan kanannya. Suaranya mulai bergetar, namun penjelasannya belum selesai sampai disitu, “Tapi bagiku kak, turun hujan adalah saat-saat yang paling menyenangkan” raut wajahnya terlihat lebih tenang dan menggambarkan kebagiaan.

“Kenapa menyenangkannya dek?” ku menyamai langkah nya yang kecil-kecil dan mulai melambat.

“Kata ibu, hujan itu rahmat kak, seharusnya setiap orang bahagia ketika hujan turun. Aku pun merasakannya kak, bagiku hujan adalah saat Allah memberikan uangnya untuk ku. Meskipun aku sering kehujanan, tapi aku tidak pernah merasakan sakit loh ka” kali ini, aku benar-benar melihat senyumnya yang sangat manis. Wajah khas jawa begitu jelas terlihat. Halus sekali budi pekerti yang diajarkan kedua orangtuanya. Pengalaman telah mendewasakan pikirannya. Bisa aku taksir, usia anak kelas dua sekolah dasar hanya berkisar delapan tahun. Tapi hari ini, ia-lah guru kehidupan bagi ku.

“MasyaAllah..” lisan ku tak berhenti bertasbih. Allah benar-benar sayang padaku. Hari ini, Allah ingin mengingatkan ku betapa indah hikmah dibalik hujan yang Dia turunkan. Betapa banyak hamba-hambaNya yang mendapatkan rezeki melalui rahmat Allah yang satu ini, yang tekadang banyak kita sumpahi dan kita keluhkan.

Sepanjang perjalanan menuju parkiran tadi, begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan dari anak usia delapan tahun, bertaut 12 tahun dengan ku. Salah satu pesannya yang tidak akan terlupakan,

 “Ka, lain kali tidak usah bawa payung yaa, kalau kakak merasa hujan adalah rahmat dari Allah .” Kali ini aku jongkok memberikan selembaran uang 10 ribuan dua buah kepadanya. 

“Kenapa begitu dek?” tanya ku heran. 

“Karena biar kaka merasakan rahmatNya secara langsung, hujan-hujan kayak aku gini kak hehehe.” Ia berlari meninggalkan ku dengan sebelumnya mengucapkan terimakasih dan memberikan senyuman paling manis untuk kesekian kalinya.
Hujan mulai reda, dan kami beranjak pulang.

****

“Si Raihan itu pasti gedenya nanti ganteng ta.” Kali ini Ray benar-benar salah fokus, “Eh.. tapi setelah mendengar ceritamu, aku jadi mau bawa payung aja.”

“Loh kenapa begitu?” wajah Ray tampak serius mengucapkannya. Bagaimana bisa ia membawa payung, sedangkan satu payung pun tidak pernah aku temukan di kosan Ray.

“Iyah karena kalo harus bayar dua puluh ribu setiap kali ojek payung, bisa gak makan nanti gue seharian. Hahaha.” Menggelikan sekali kesimpulan yang ia dapatkan dari cerita SIta yang panjang lebar tadi. Kali ini, Sita benar-benar terjungkal mendengar pernyataan sahabatnya. Namun Sita yakin, Ray adalah orang yang cerdas. Ia tidak hanya menjadi pendengar yang baik, namun juga pelaku amal yang konsisten. Meski kekanak-kanakkannya tidak juga hilang diumurnya yang keduapuluh tahun ini.

Adzan magrib bergema mengalahkan suara petir yang sedari tadi sudah mulai tenang. Allah benar-benar masih sayang pada kami. Mereka menuju tempat tujuan masing-masing setelah sholat magrib disalah satu mushola fakultas terdekat.