Tampilkan postingan dengan label kebaikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebaikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 September 2019

#Freewriting

Why Are You So Worried ???

Dear Aku,

Udah lama rasanya kita (aku dan hatiku) tidak bercengkrama lewat sujud-sujud panjang. atau sekedar bertegur sapa di depan cermin kamar. menyunggingkan senyum, menatap dengan mantap, sekedar mengutuhkan keyakinan setiap pagi.

Yakin,
Keyakinan yang utuh, kuat, dan menyeluruh tentang segala hal yang sudah Allah tuliskan. Yakin bahwa Allah selalu memberikan segala yang kita butuhkan. Eits, bukan yang berlebihan, tapi cukup membuat hati kita tentram dan aman. Itulah keyakinan, ketika mengingat Allah saja sudah membuat rasa tentram dan aman. Allah...

Tapi terkadang,
beberapa kali ya mungkin kita merasa ragu. Saat doa-doa yang kita panjatkan dan beberapa kebutuhan lain yang Allah 'delay' waktu dikabulkannya karena beberapa alasan (hanya Allah yang tahu jawabannya). Lantas, kita kehilangan keyakinan? Astagfirullah.. haruskah kita membaca syahadat lagi? :"(

Padahal ya,
Bukan Allah tidak kabulkan, mungkin ada waktu yang tepat untuk mewujudkannya. Ada saat dimana hati kita tengah sangat sensitif dalam menerima kebaikan, kemudian kita 'engeh' kalau ternyata suatu moment sepele dalam hidup kita adalah jawaban dari doa-doa kita. Ah... romantis banget kan Allah tuh. ada aja cara-Nya membuat hamba-Nya yg dhoif ini selalu bahagia :") sedangkan aku?? huhu jarang sekali membuat Allah bahagia :"(

Yes, That's The Point!
Husnudzon !
Husnudzon aja dulu sebanyak-banyaknya sama Allah. Mungkin ke khawatiran kita akan hari esok tentang harta, benda, anak, dan pasangan (yg udh punya :")) terlalu berlebihan. Padahal, kalau saja keyakinan kita utuh di dalam dada kita, InsyaAllah tidak ada sedikitpun kekhawatiran tersebut. huhu apalah aku, bahkan besok aja masih bingung mau makan uangnya cukup apa enggak? :"(

Dear Aku,
Coba deh diri,
sering-sering bercengkarama dengan hati, dengan Allah.
Tanya lagi, apa yang kamu khawatirkan? sedang Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu di kehidupan ini :"(

Jakarta,
Tiba-tiba saya khawatir,
Lusa akan banyak kata-kata menusuk hati.
Astagfirullah :")
(20 September 2019)

Selasa, 27 November 2018

Coletahan Tujuh : Catatan Pencari Kerja


Catatan Pencari Kerja

Beberapa hari terakhir akhirnya saya merasakan bagaimana susahnya mencari kerja. Sudah buka beberapa situs yang menyediakan lowongan kerja, mantengin akun instagram penyedia lapangan kerja, ikut job-fair atau bahkan malah intrenship-fair sangking udah bingung mau coba apa lagi. Lagi-lagi keseriusan saya diuji sama Allah, sebagai fresh-graduate yang minim pengalaman dan kemampuan.

Sedih sih sempet enggak maksimalin waktu kuliah yang masih sangat luang untuk memperdalam softskill khusus atau mempelajari beberapa bahasa asing yang saat ini menjadi salah satu persyaratan mencari kerja. Menyesal? Jelas iyah, tapi apa daya, waktu sudah berlalu dan tidak perlu ditangisi lagi. Penyesalan cuma punya orang-orang tidak beriman. Saya masih menenangkan diri dengan keyakinan bahwa rejeki sudah Allah yang ngatur.

Eits, bicara tentang rejeki, jangan sampai kita menyempitkan persepsi rejeki dengan hanya gaji hasil banting tulang. Rejeki itu luas, bro. Bahkan saat ini kita menghirup udara segar saja bisa disebut rejeki, jadi mari kita bersyukur dulu, Alhamdulillah. Terus kalau rejeki Allah sudah melimpah buat kita, buat apa dong cari kerja?

Yaps, saya sempat berpikir demikian. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah akan selalu mencukupi kebutuhan hamba-hamba-Nya. Apalagi kita masih punya orangtua, saudara, teman, tetangga, dan lainnya. Lantas saya semakin bimbang untuk apa tujuan saya mencari kerja? Terus kalau enggak kerja, saya harus apa sehabis lulus ini? Nikah? Boleh juga hahaha.

Karena saya tidak ada pilihan lain selain bekerja, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi manusia trend saat ini, pencari kerja. Meskipun sampai saat ini, saya mencoba untuk mencari berbagai alasan mengapa saya bekerja. Salah satunya adalah bentuk ibadah saya kepada Allah. Why? Saya bisa berbagai kebaikan ditempat kerja saya, saya bisa membalas budi orangtua meskipun hanya sedikit sekali, saya bisa manfaatkan gaji yang saya terima nantinya untuk kepentingan keluarga saya dan orang lain. Terutama untuk biaya umrah atau haji dan nikah.

Akhirnya saya menemukan jawaban atas kebimbangan saya selama ini. Kalau gitu saya bisa bekerja apa dong biar bermanfaat? Sejatinya semua pekerjaan yang diniatkan karena Allah, InsyaAllah akan bermanfaat untuk orang lain. Tapi sayangnya idealisme saya sebagai mahasiswa departemen X dulunya masih sangat menginginkan bekerja dibidang yang saya kuasai, agar ilmu yang saya emban empat tahun belakangan menjadi bermanfaat.

Wajar aja kalau kita punya idealisme yang tinggi untuk mempertahankan prinsip itu. Kan sayang juga yaa kalau enggak dibidang yang sama, nantinya ilmunya jadi menguap begitu aja (hiks :’() atau hanya bermanfaat untuk keluarga kita sendiri. It’s oke, kamu yang idealis seperti itu enggak sendirian. Saya juga masih kok. Tapi setelah saya berpikir lagi dan lagi.....

Sulit memang mendapatkan pekerjaan yang linear, apalagi keilmuan saya ini masih sangat jarang dibutuhkan, atau lebih tepatnya kurang spesifik. Baiknya memang lanjut S2 aja yaa, hehe. Sampai pada akhirnya, saya coba sedikit melenceng untuk mencari pekerjaan yang saya minati atau sesuai kemampuan yang saya punya atau yang sesuai dengan kualifikasi CV saya. Yah mau bagaimana lagi, idealisme kita memang harus sedikit dikurangi untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu bermanfaat.

Iyah memang benar, dimanapun kita bekerja kalau diniatkan karena Allah, insyaAllah akan menumbuhkan manfaat dan kebaikan. Saya ingat betul kata-kata itu. Solusinya apa buat keilmuan saya? Setelah saya pikirkan meskipun belum sepenuhnya saya jalani, saya coba menuangkan keilmuan saya semasa kuliah dalam sebuah tulisan atau karya yang independen. Pengennya biar bermanfaat untuk orang lain. Meskipun proses memulai-nya sangat berat, ini baru keinginan saya.

So.. sebenarnya saya menuliskan ini untuk mengingatkan diri saya sendiri, jika berkenan kalian juga bisa mengambil manfaatnya. Saya memang belum benar-benar selesai deng an status pencari kerja, tapi saya cuma ingin menuangkan kegalauan hati saya yang barangkali teman-teman juga rasakan.

Baiklah..
Segini dulu aja yaa.

Senin, 26 November 2018

#Freewriting

Dear Pengirim Pulsa

Beberapa bulan terakhir ada seseorang yang sangat baik mengirimkan saya pulsa setiap bulan. Saya tidak tahu siapa (pastinya bukan keluarga saya), dan saya tidak tahu apa tujuannya. Apakah mungkin saya tanyakan satu per satu kepada teman-teman saya?

Dear kamu,
Terimakasih atas kebaikan hatimu. Buat pulsa yang selama ini kamu kirimkan. Tapi mohon maaf, sepertinya tidak perlu lagi dikirimkan. Mengapa saya menuliskan nya di blog saya? Maaf karena saya tidak tahu siapa kamu, dan dimana kamu berada.

Bukan naif atau pura-pura enggak butuh.
Jujur aja saya sangat bersyukur atas rejeki dari Allah lewat seseorang seperti kamu. Tapi saya tidak mau ada kesalahpahaman. Saya tidak mengenal siapa kamu, tapi saya berharap Allah membalas kebaikan-kebaikan mu.

Lain kali, pulsanya bisa dikirimkan ke teman-teman yang lebih membutuhkan, misal para relawan, atau lainnya. Karena sesungguhnya saya ingin berusaha sendiri mendapatkan pulsa itu, saya ingin pulsa itu di beli dari hasil jerih payah saya sendiri. Meskipun nilainya tidak besar menurut kalian, tapi rasanya beda sekali kalau kita bisa menikmati hasil jerih payah sendiri.

Saya bersyukur.
Tapi saya mohon, izinkan saya untuk lebih dewasa, dan tidak dimanjakan dengan hal-hal yang gratis. Saya ingin kamu yang disana, juga menghargai pendapat saya. Terimakasih untuk pulsanya bulan ini. Semoga bermanfaat untuk saya gunakan. 

Jazakumullah Khairan Katsiran. 

Minggu, 10 Juli 2016

Catatan Kegalauan #1


Kecewa pada Allah??

Pernah kah kau bertanya pada dirimu, "Apakah Allah ridho dengan jalanku?"


Ilustrasi Gambar
Kali ini sebuah pengumuman menamparku. Berkali-kali aku pastikan kebenaran berita tersebut. "Ah, mungkin ini panitia nya yang salah ketik atau kelalaian peng-input data." Apa yang salah dengan data yang sudah ku isikan pada laman pendaftaran itu. Aku sudah mengisikannya dengan sungguh-sungguh. "Mengapa aku tidak lolos?!" keluhku berkali-kali. Semakin ku keluhkan, semakin menyesakkan dada.  Tidak ada yang salah dari pengumuman itu, meskipun kenyataannya satu pintu telah tertutup untuk merancang masa depanku. (Ilustrasi cerita)

Satu-dua kali kita pernah merasa kecewa dengan takdir. Ada masa dimana kita selalu merasa benar di atas kelalaian orang lain. Berusaha membela diri untuk menenangkan hati yang tidak puas. Ada juga kalanya rencana hidup kita tidak sesuai dengan harapan. Padahal sudah jatuh-bangun kita usahakan impian-impian itu. Namun nyatanya hanya kelelahan dan rasa jenuh yang kita dapatkan. Lagi-lagi manusia akan kembali ke pada fitrah yang sebenarnya, banyak berkeluh kesah dan kikir.

Sampai kepada titik puncak ketidakpuasaan manusia pada Penciptanya, "Mengapa Allah tidak Adil?." Menyalahkan takdir yang sesungguhnya sudah Allah tuliskan untuk kebaikan setiap hamba-Nya. Menghardik doa-doa yang tidak pernah dipanjatkan, namun memaksakan untuk di kabulkan. Bagaimana bisa? Bayangkan oleh kita yang terkadang merasa angkuh dengan setiap rencana yang sudah kita susun dengan matang. Kita merasa bahwa intelektual dan kemampuan kita mampu melangkahi khendak Allah. Sungguh, manusia itu kerdil bahkan sampai kepada hatinya.

Tidak kah kita sadar bahwa diri ini begitu lemah. Tidak sedikit pun kita mampu berkuasa atas kebaikan-kebaikan yang telah kita dapatkan. Sungguh Allah telah memberikan yang terbaik bagi kehidupan kita. Sesuatu yang kita pandang buruk dan mengecewakan bisa jadi menyimpan rahasia besar bagi kehidupan kita nanti. Ada kebaikan-kebaikan lain yang bisa kita dapatkan dari pintu-pintu keridhoan Allah. Bukankah Allah telah peringatkan (Q.S. Al Baqarah ayat 216)   

" Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. "

Maka berprasangka baik-lah pada setiap rencana Allah untuk mu. Sudah semestinya manusia tidak banyak menuntut dalam doa. Melainkan kita pasrahkan segala ketidakberdayaan kita hanya kepada Allah. Indah bukan, saat rencana kita dan MAU nya Allah untuk kita sejalan dan seirama? maka saat itu terjadi, semoga Allah selalu melingkupi hidup kita dengan Rahmat dan Keridhoan-Nya..

Allah...
Iringi langkahku dengan ridho-Mu.
Umi Azizah M