Tampilkan postingan dengan label Catatan Kaki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kaki. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 September 2019

Antalogi Sastra

Dicintai atau Mencintai?

Dahulu kala ada seorang pangeran yang sangat mencintai seorang puteri dari negeri sebrang. Cantik parasnya membuat ia jatuh hati berkali-kali. Mau dilihat 1000 kali pun, ia akan tetap jatuh hati. Bayangkan seberapa besar cinta tumbuh di hatinya (?).

Di waktu yang sama, ada seorang perempuan dari kalangan rakyat jelata mencintai sang pangeran baik hati itu. Cintanya yang bertepuk sebelah tangan tak pernah sedikitpun membuatnya bersedih. Semakin hari, rasa cintanya bertambah-tambah. Ia tunjukkan cintanya dalam bentuk kesetiaan kepada sang pangeran. Kesetiaan yang tiada duanya dengan menjadi pelayanan sang pangeran

***
Suatu hari, sang pangeran dengan kuda yang gagah perkasa menuju ke istana tuan putri, dengan harapan dapat meminangnya saat itu. Ditemani oleh perempuan biasa yang setia memenuhi setiap kebutuhannya, apapun itu.

Ketika telah sampai, tuan puteri menerimany dengan sngat senang hati. Bukan, bukan menerima cinta sang pangeran, namun ia hanya berbinar saat menatap begitu banyak emas yang dibawa sang pangeran sebagai mahar. Perhatiannya kepada sang pangeran langsung teralihkan dalam sekejap.

"Tuan puteri, terimalah lamaran saya ini, saya akan berikan semua emas dan berlian ini kepadamu," ujar sang pangeran dengan lemah lembut.

Tuan puteri masih tercengang, memang telah diakui oleh semua kerajaan sewaktu itu, kerajaan pangeran adalah kerjaan terkaya yang pernah berdiri pada masanya. Tuan puteri yang gelap mata hanya menerima pangeran karena harta dan takhta nya. Akhir ceritanya? apakah bahagia?

***
Jelas saja kisah sang pangeran polos dan tuan puteri matre tidak berhenti disitu (wkwkw). Beberapa bulan setelah pernikahan, semua harta pangeran terkuras habis karena gaya hidup tuan puteri yang kelewat batas. Bahkan sang pangeran tidak dilayani selayaknya suami, tuan puteri telah mencampakkannya setelah merenggut harta sang pangeran.

Sementara itu, ditengah permasalahan rumah tangganya, sang pangeran selalu dilayani dengan sangat baik oleh si perempuan biasa itu. pelayanan setianya, yang sudah banyak membantunya. membuatkan makanan, menyiapkan pakaian, menghibur di kala sedih dan gundah, bahkan memberikan banyak solusi atas masalahnya.

Masalahnya, mengapa sang pangeran tidak sadar juga? Apabila ada sosok yang selalu menemaninya dalam keadaan suka maupun duka? why??
Karena sang pangeran masih sangat yakin apabila ia bisa mengubah tuan puteri menjadi perempuan yang mencintainya dengan tulus.
Sebesar apapun usaha yang akan ia kerahkan, Seberapa lamapun waktunya, sungguh sang pangeran tidak akan menyerah. Apakah endingnya masih tragis?

***
Tidak kalau cerintanya akan mirip dengan kisah hidayah di Indo*** (hehe).

Tapi sayangnya memang akan tragis. Karena sedari awal sang pangeran tidak pernah bertanya kepada tuan puteri apakah dia mencintainya juga atau tidak, dia hanya melamarnya, dia hanya meminta hatinya, tapi sebenarnya tuan puteri tidak pernah merelakannya.

Sementara si perempuan biasa, dengan kerendahan dirinya, dia tidak akan pernah mengungkapkan perasaannya kepada sang pangeran. Dia tahu diri, dia tahu dimana posisinya. Rasa rendah diri membawanya kepada penyesalan.

Si Tuan Puteri?
Dia hanya akan menemukan cinta semu atas keserakahannya kepada dunia. Dia tidak akan benar-benar menemukan cinta sejati selama dunia masih di hatinya. Dia hanya akn tetap seperti itu, kecuali sang pangeran selalu sabar mendoakan dan menunggunya.

Semua akn terjadi.
Menjadi orang yang akan dicintai atau menjadi orang yang mecintai adalah pilihan.
Dimanapun posisimu nanti,
Jadilah sebaik-baik pelaku yang mencintai dengan sepenuh hati, harap, dan keyakinan.
Biar Allah yang akan menyaksikannya. :")

Jakarta.
Terbawa suasana hari ini.
Kisah ini fiktif belaka.
Kadang ada mirip sih haha :")

Rabu, 28 November 2018

#Freewriting

Mengetuk Pintu TAKDIR

Hampir saja diri ini kehilangan akal
Oh bukan, mungkin tepatnya kehilangan iman
Hampir dikuasai oleh dengki yang ditanamkan sendiri
Padahal Allah, tidak menyukai yang demikian

Hampir saja diri ini semakin tersesat
Hilang arah, entah mau kemana
Tidak ada tujuan, atau tidak tahu apa yang akan dituju
Hanya sebatas duniakah?
Padahal Allah, sangat Pemurah pada hamba-Nya

Lantas, seberkas cahaya kembali muncul
Seakan Allah masih sayang padaku
Masih memberikan berbagai petunjuk kepada hati yang gelap
Rasanya seakan Allah tengah memelukku, dalam...

Aku tahu, atau lebih tepatnya aku sadar
Bahwa ruh ini semakin liar, lupa untuk apa di cipta
Bahwa iman ini semakin kering, semakin tersesat dalam angan
Aku lupa...
Yah aku lupa, sesungguhnya Allah tidak pernah melupakanku

Meski rasanya sakit,
Tapi ternyata sakit itu selalu memberi hikmah
Allah ingin tunjukkan bahwa Ia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendirian
Bahwa aku masih diberi kesempatan, kesekian kalinya.

Benar,
Semua yang ada di dalam kalamnya adalah kebenaran
Bahwa ketika kita menginginkan sesuatu di alam semesta ini
Maka bukan kita yang berhak memutuskannya
Karena kita bukanlah siapa-siapa
Tapi, Allah-lah yang akan menunjukkan apa yang terbaik untuk kita

Maka,
Usaha yang kini sedang kita lakukan sesungguhnya
Meskipun diawali dengan sakitnya kegagalan
Yakin, seyakin-yakinnya bahwa arah mata angin iman kita sedang Allah tunjukkan
Sedang Allah bimbing langkah ini
Untuk mengetuk pintu takdir kita, bukan pintu takdir orang lain

Percayalah kawan,
Jika kau gagal artinya itu bukan milikmu
Jika kau berhasil artinya bisa jadi juga bukan milikmu
Jika kau lama menunggu artinya Allah semakin cinta denganmu
Jika kau melepas semua usahamu dan merelakan dirimu hanya untuk Allah
Maka itulah takdirmu....

Takdir yang tak akan bisa kau hindari....

Bogor,
Hari ini dimana aku menyadari bahwa iman ini telah rapuh

Al_izzah

Selasa, 27 November 2018

Coletahan Tujuh : Catatan Pencari Kerja


Catatan Pencari Kerja

Beberapa hari terakhir akhirnya saya merasakan bagaimana susahnya mencari kerja. Sudah buka beberapa situs yang menyediakan lowongan kerja, mantengin akun instagram penyedia lapangan kerja, ikut job-fair atau bahkan malah intrenship-fair sangking udah bingung mau coba apa lagi. Lagi-lagi keseriusan saya diuji sama Allah, sebagai fresh-graduate yang minim pengalaman dan kemampuan.

Sedih sih sempet enggak maksimalin waktu kuliah yang masih sangat luang untuk memperdalam softskill khusus atau mempelajari beberapa bahasa asing yang saat ini menjadi salah satu persyaratan mencari kerja. Menyesal? Jelas iyah, tapi apa daya, waktu sudah berlalu dan tidak perlu ditangisi lagi. Penyesalan cuma punya orang-orang tidak beriman. Saya masih menenangkan diri dengan keyakinan bahwa rejeki sudah Allah yang ngatur.

Eits, bicara tentang rejeki, jangan sampai kita menyempitkan persepsi rejeki dengan hanya gaji hasil banting tulang. Rejeki itu luas, bro. Bahkan saat ini kita menghirup udara segar saja bisa disebut rejeki, jadi mari kita bersyukur dulu, Alhamdulillah. Terus kalau rejeki Allah sudah melimpah buat kita, buat apa dong cari kerja?

Yaps, saya sempat berpikir demikian. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah akan selalu mencukupi kebutuhan hamba-hamba-Nya. Apalagi kita masih punya orangtua, saudara, teman, tetangga, dan lainnya. Lantas saya semakin bimbang untuk apa tujuan saya mencari kerja? Terus kalau enggak kerja, saya harus apa sehabis lulus ini? Nikah? Boleh juga hahaha.

Karena saya tidak ada pilihan lain selain bekerja, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi manusia trend saat ini, pencari kerja. Meskipun sampai saat ini, saya mencoba untuk mencari berbagai alasan mengapa saya bekerja. Salah satunya adalah bentuk ibadah saya kepada Allah. Why? Saya bisa berbagai kebaikan ditempat kerja saya, saya bisa membalas budi orangtua meskipun hanya sedikit sekali, saya bisa manfaatkan gaji yang saya terima nantinya untuk kepentingan keluarga saya dan orang lain. Terutama untuk biaya umrah atau haji dan nikah.

Akhirnya saya menemukan jawaban atas kebimbangan saya selama ini. Kalau gitu saya bisa bekerja apa dong biar bermanfaat? Sejatinya semua pekerjaan yang diniatkan karena Allah, InsyaAllah akan bermanfaat untuk orang lain. Tapi sayangnya idealisme saya sebagai mahasiswa departemen X dulunya masih sangat menginginkan bekerja dibidang yang saya kuasai, agar ilmu yang saya emban empat tahun belakangan menjadi bermanfaat.

Wajar aja kalau kita punya idealisme yang tinggi untuk mempertahankan prinsip itu. Kan sayang juga yaa kalau enggak dibidang yang sama, nantinya ilmunya jadi menguap begitu aja (hiks :’() atau hanya bermanfaat untuk keluarga kita sendiri. It’s oke, kamu yang idealis seperti itu enggak sendirian. Saya juga masih kok. Tapi setelah saya berpikir lagi dan lagi.....

Sulit memang mendapatkan pekerjaan yang linear, apalagi keilmuan saya ini masih sangat jarang dibutuhkan, atau lebih tepatnya kurang spesifik. Baiknya memang lanjut S2 aja yaa, hehe. Sampai pada akhirnya, saya coba sedikit melenceng untuk mencari pekerjaan yang saya minati atau sesuai kemampuan yang saya punya atau yang sesuai dengan kualifikasi CV saya. Yah mau bagaimana lagi, idealisme kita memang harus sedikit dikurangi untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu bermanfaat.

Iyah memang benar, dimanapun kita bekerja kalau diniatkan karena Allah, insyaAllah akan menumbuhkan manfaat dan kebaikan. Saya ingat betul kata-kata itu. Solusinya apa buat keilmuan saya? Setelah saya pikirkan meskipun belum sepenuhnya saya jalani, saya coba menuangkan keilmuan saya semasa kuliah dalam sebuah tulisan atau karya yang independen. Pengennya biar bermanfaat untuk orang lain. Meskipun proses memulai-nya sangat berat, ini baru keinginan saya.

So.. sebenarnya saya menuliskan ini untuk mengingatkan diri saya sendiri, jika berkenan kalian juga bisa mengambil manfaatnya. Saya memang belum benar-benar selesai deng an status pencari kerja, tapi saya cuma ingin menuangkan kegalauan hati saya yang barangkali teman-teman juga rasakan.

Baiklah..
Segini dulu aja yaa.

Senin, 26 November 2018

#Freewriting

Dear Pengirim Pulsa

Beberapa bulan terakhir ada seseorang yang sangat baik mengirimkan saya pulsa setiap bulan. Saya tidak tahu siapa (pastinya bukan keluarga saya), dan saya tidak tahu apa tujuannya. Apakah mungkin saya tanyakan satu per satu kepada teman-teman saya?

Dear kamu,
Terimakasih atas kebaikan hatimu. Buat pulsa yang selama ini kamu kirimkan. Tapi mohon maaf, sepertinya tidak perlu lagi dikirimkan. Mengapa saya menuliskan nya di blog saya? Maaf karena saya tidak tahu siapa kamu, dan dimana kamu berada.

Bukan naif atau pura-pura enggak butuh.
Jujur aja saya sangat bersyukur atas rejeki dari Allah lewat seseorang seperti kamu. Tapi saya tidak mau ada kesalahpahaman. Saya tidak mengenal siapa kamu, tapi saya berharap Allah membalas kebaikan-kebaikan mu.

Lain kali, pulsanya bisa dikirimkan ke teman-teman yang lebih membutuhkan, misal para relawan, atau lainnya. Karena sesungguhnya saya ingin berusaha sendiri mendapatkan pulsa itu, saya ingin pulsa itu di beli dari hasil jerih payah saya sendiri. Meskipun nilainya tidak besar menurut kalian, tapi rasanya beda sekali kalau kita bisa menikmati hasil jerih payah sendiri.

Saya bersyukur.
Tapi saya mohon, izinkan saya untuk lebih dewasa, dan tidak dimanjakan dengan hal-hal yang gratis. Saya ingin kamu yang disana, juga menghargai pendapat saya. Terimakasih untuk pulsanya bulan ini. Semoga bermanfaat untuk saya gunakan. 

Jazakumullah Khairan Katsiran. 

Celotehan Enam : Bukan Hanya Nikah yang Satu Visi


Penting Katamu, Satu Visi!

“Aku tuh butuh yang satu visi, Kak Dan,” seseorang menggebrak meja kantin tepat dimana aku duduk. Tatapannya tajam, rasanya batin yang berbicara tadi itu, bukan sekedar angan-angan.

“Astagfirullah, sabar sabar, apanya yang satu visi? Calon suami?” jawabku dengan sedikit bualan untuk sekedar mencairkan larva panas di dalam hatinya. Sebelum akhirnya benar-benar meledak.

Dua bibir yang sedari tadi menga-nga berubah menjadi corong panjang, “hiiiii kamu tuh nggak ngerti banget yang aku omongin kemarin. Ini tentang masa depan himpunan Kak, bukan nikah,” dia duduk di depan bangku kosong sambil melipat kedua tangannya di dada, seperti bersedekap.

“Oh itu.. iyah aku inget. Bener kok prinsip kamu itu, harus satu visi, kan? Visi kamu dan ketua himpunan kamu itu harus sama, biar jalannya enak, biar prosesnya menjadi berpahala,” sahut sambil menganggukkan kepala tanda paham.

Ternyata bukan nikah aja yang butuh satu visi, loh. Dalam perjuangan apapun dengan saudara-saudara kita, kita butuh menyatukan visi. Visi kita untuk Allah.

“Iyah itu maksud aku. Padahal aku udah tanya ke dia, apa alasan dia calonin diri jadi kahim (ketua himpunan). Tapi dari jawabannya itu aku sadar kalau kita emang enggak satu visi. Aku tuh pengen banget bikin himpunan ini jadi lebih baik,” muka tegangnya berubah menjadi bayang-bayang kesedihan.

Padahal sederhana sekali visi si adik kecil ini (begitu sebutanku untuknya). Ia hanya ingin perubahan yang berarti (kebaikan).

“Sok atuh deh kamu bilang ke kahim kamu langsung, dia setuju enggak sama ide-ide yang kamu bawa,” jawab aku sekenanya.

“Tapi.. kalau dia ternyata enggak bener-bener serius nanggepin ide aku gimana? Aku harus gimana?” putus sudah harapan, pikirnya.

“Masih ada jalan InsyaAllah, kalau memang akhirnya kalian tidak se-visi. Maka kamu harus tetap membersamainya, membantunya menemukan jalan menuju visi yang kamu harapkan. Temani dia mengenal hangatnya aturan-aturan Islam lewat setiap gerak-gerik kamu disana. InsyaAllah niat baik kamu akan tetap Allah balas,”

“Hmm.. baiklah. Aku coba untuk tetap bertahan, walau sakit rasanya enggak bisa berbuat banyak untuk perbaikan himpunan,”

Perbincangan hari itu kita tutup dengan dua mangkok bakso super pedas. Kata orang, kalau lagi ngebul kepalanya, enak makan bakso, biar kebulan-nya cepet hilang dan kembali normal.

Jadi, meskipun rasanya pemimpin kita tidak satu visi dalam kebaikan (InsyaAllah) dengan kita. Maka, bertahanlah, jadilah perantara hidayah Allah untuknya. Karena mungkin hari ini dia bisa saja mengatakan ‘Tidak’, tapi esok hari Allah mengkhendaki hatinya untuk menjawab ‘Ya’ dengan ajakan kebaikanmu.

Tetap berjuang saudaraku!!!


Minggu, 22 Januari 2017

Request #3


Teruntuk ;
(dari aku yang merindukanmu)  
Adakalanya seseorang tidak mampu mengungkapkan apa yang dia rasa. Tentang sedih, kecewa, marah, bahkan bahagia sekalipun. Tak ada yang salah dengan itu. Mungkin hanya kosa kata kita yang tidak cukup untuk menterjemahkannya. Atau mungkin hati kita tidak sanggup menangkap sinyal-sinyal rasa dari wajahnya. Cukuplah menatapnya lekat-lekat, mungkin kau akan menemui sesuatu yang kau cari.

Begitupun aku. Sejenak aku putar kembali memori tentang kita. Tentang waktu yang kita habiskan bersama. Sekedar bercerita, sekedar bergurau senda. Tentang senja yang menjadi saksi pertengkaran kecil kita. Tentang lingkaran yang selalu mengingatkan kita. Tentang kios-kios kaki lima yang kita jajaki untuk sekedar makan bersama. Tentang bangku besi dingin itu yang mulai bosan kita hangatkan. Tentang surau sederhana tempat kita melakukan segalanya. Terlalu banyak cerita. Terlalu  indah dirasa.

Aku kira. Pertemuan kita bukanlah awal dari sebuah perpisahan.  Tidak melulu semua akan berakhir di dunia. Adakalanya sesuatu itu akan abadi hingga di surga. Begitupun kita. Karena ukhuwah ini akan memberi kita tempat terindah nantinya. Menara-menara cahaya yang berkelap-kelip. Keindahannya membuat para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam cemburu padanya. Menara cahaya tempat hati-hati para hamba Allah menyatu dalam ikatan persaudaraan karena-Nya.


Itulah yang membuatku hingga detik ini aku tak mampu mendefiniskan dengan pasti apa yang ku rasakan. Rasa nyaman saat aku bersamamu. Rasa lega saat aku mampu menceritakan segalanya padamu. Rasa hangat saat kau memeluk luka-luka di hatiku. Rasa tenang saat kau menasehatiku. Rasa gembira saat kita saling mengingatkan. Rasa bahagia sebagai wujud terimakasihku pada Allah. Atas anugrah yang telah diberikan. Atas pertemuan yang dikhendaki-Nya. 

Sebait lagu terngiang dalam ingatan,
Bukankah hati kita telah menyatu
Dalam tali kisah persahabatan Ilahi.
(Edcoustic – Sebiru Hari Ini)

Teruntuk saudara seiman,
Teruntuk adik tersayang
Teruntuk sahabat terbaik
Teruntuk kakak tersabar
Teruntuk kamu yang membersamaiku dalam jalan ini.

Salmaa Dillah Ikbaar

Semoga Allah selalu melindungimu.


Sabtu, 21 Januari 2017

Request #2

[R I N D U]


Rindu temaram sore itu.
Pada perbatasan antara dermaga dan gagahnya layar.
Pada garis pantai yang membelah sang surya.
Pada debur ombak yang membentur karang.
Pada semburat senja yang mengabarkan duka.

Rindu tenggelam malam itu.
Menelan utuh cahaya putih berkilauan.
Yang ada hanya purnama berselimut awan hitam.
Yang ada hanya bintang mengintip malu dari balik singgasana.
Menutup malam yang menggigil, menghembuskan dinginnya rindu.

Rindu bahkan tak pernah hadir kembali.
Bersama fajar yang menghapus duka.
Bersama kicau burung penghibur jiwa.
Bersama waktu yang hadir di antara kita.

Rindu bahkan tidak pernah ingin pergi.
Karena ia mungkin telah lupa cara tuk pulang.
Atau ia takut kehilangan deretan cerita.
Bahkan ia masih berharap kau kembali singgah.

Rindu tidak akan meninggalkan ku disini
Rindu tidak akan memintamu kembali
Rindu hanya ingin tahu, apakah rumahnya masih seperti dulu.

Rindu,
Bogor, 06 November 2016

#Freewriting

[M E R I N D U]

Kali ini, izin aku mengungkapnya padamu. pada malam pekat yang menutupi rembulan. pada mendung yang menghalangi cahaya bintang. pada gemuruh guntur yang menenggelamkan suara jangkrik.

Kali ini, izin aku mengekspresikan. segurat senyum tipis berwajah pucat. kerlip putih yang mempesona. merdunya alunan penghantar tidur malam ini.

Kali ini, izin aku ceritakan. satu rahasia apabila malam benar-benar telah gulita. tentang rasa yang menggigil kedinginan. menciut dibuat rasa cemas karena terabaikan.

Kali ini, izinkan aku mengucapkannya.
pada penghujung petang yang menampakkan pesona jingganya. pada penghujung fajar yang memancarkan cahaya gagahnya. pada sejadah panjang yang menanti jiwa-jiwa mulia tunduk padanya.

izin aku mengutarakannya.
bahwa aku merindu pada diri yang semakin khsusuk menghamba.
bahwa aku merindu pada hati yang semakin tunduk dalam ta'at.
bahwa aku merindu pada iman yang semakin menjulang meski diterpa ujian..

masihkan aku merindu?
sedangkan malam tidak lagi hadir.
sedangkan siang akan segera berakhir.
seharusnya bukan lagi rindu.
seharusnya aku sudah menemuinya.

me-Rindu.
Bogor, 25 Oktober 2016

Momentum P E M U D A



[ Tentang A K U ]



"Sesungguhnya Allah mencintaiku...."

Satu hal penuh makna. satu kata penuh cinta. energi membuncah. semangat bergelora. tak pernah berfikir panjang soal loyalitas. aku kuat, katamu. sepuluh saja kau kumpulkan aku, bahkan segalanya dapat ku lakukan.

Sejuta ide ku genggam. ada banyak jalan menuju Roma, katamu. dan kau begitu yakin, aku lah yang dapat menempuhnya. menjejaki jalan berliku yang penuh rintangan. kau katakan lagi, aku lah yang mampu membawamu hingga puncak perjalanan.

aku tertegun. kau masih saja memujiku. mengharapkan banyak pada seonggok daging segar yang diidamkan banyak orang. kau bilang lagi, darahku adalah kunci dari bencinya mereka pada negeri ini. namaku adalah tonggak kehebatan sebuah bangsa. lantas aku semakin terpuruk dengan tudinganmu. aku malu. meski aku tau, kau dan Tuhanku begitu mencintaiku.

aku malu.
apa yang kau pikirkan tentangku tidak semuanya benar.
aku hanyalah kerangka tanpa daging segar itu. kini aku telah layu. lalat sudah menggerumuti tubuh ku, aku lemah dalam kemalasan. aku kikir dalam kenikmatan. aku payah soal ide-ide yang menggaungkan negeriku.

aku detik ini
hanya sebuah nama tanpa karya. tidak ada yang mampu ku hasilkan diatas kesibukan ku dengan gadget ku. diatas kecanduanku dengan games dan media sosial yang mengetrendkan namaku. di atas kebanggaanku pada karya negara lain, film, trend, makanan, dan lain sebagainya. lantas, dimana tudingan itu?
Malang sekali aku ini.
Saat tawaran menggiurkan mendatangiku tanpa olokan.
Rasulullah bersabda,
“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …” [HR Bukhari dan Muslim]

Bodohnya aku.
Bahkan surgapun, tak mengubrisku dari rasa malas. tidak menyadarkan ku dari kesibukan dunia. tidak jua menamparku dari kesia-siaan. waktu.

ternyata tudingan mu itu,
hanya untuk mereka yang sudah tua renta.
aku pada masa dahulu yang penuh jaya.
lantas, aku yang sekarang mungkin hanyalah tinggal sebuah nama.

nama yang begitu Allah cintai dan kagumi,
nama yang begitu kau harapkan.

"Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah(Hawa Nafsu)” [HR Ahmad]

masihkah aku pantas di sebut PEMUDA??

--------------------------------------------------------------------

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA
JUMAT, 28 OKTOBER 2016

Mari refleksi diri dan upgrade jiwa MUDA mu !!

#latepost