Tampilkan postingan dengan label cinta sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta sejati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Januari 2017

[ Apa itu C I N T A ]

Apa iya kau cinta?
Sedang bersama Nya saja kau tak kuat berlama-lama.
Sedang tanpa Nya saja kau masih sanggup tertawa ceria.
Sedang melupakan Nya adalah caramu menikmati hidup.

Apa benar kau cinta?
Jika lisan yang terucap bukan lagi tentang Dia.
Jika rasa yang kau miliki bukan lagi untuk Nya.
Jika pandangan yang kau berikan bukan lagi pada Nya.
Jika panca indra tak jua peka dengan hadir Nya.

Apa yang kau cinta?
Kau tuntut Ia memenuhi mau mu dalam doa.
Kau pinta Ia menyeka tangismu dalam duka.
Kau paksa Ia menolongmu dalam kubangan dosa.
Kau biarkan Ia mencucurkan nikmat kepadamu tanpa kau tunaikan haknya.

Apa kau malu men-cinta?
Sejak pagi hingga malam, Ia selalu menemani langkahmu.
Sejak kau bayi hingga besar, Ia tak henti menutupi aibmu.
Sejak kau miskin hingga kaya, Ia tak pernah meninggalkanmu.
Sejak kau lupakan Ia, tak ada satu tarikan napas mu yang Ia hentikan.

Sekiranya kau sadar,
Tanpa cintamu pun, Ia tetap Maha Pengasih
Tanpa cintamu pun, Ia tetap Maha Hidup
Tanpa cintamu pun, Ia tetap Maha Penyayang
Tanpa cintamu pun, Ia tetap Maha Pengampun

Tanpa cintamu?
Apakah kau tidak malu?
Sungguh.
Apa jadinya, jika Ia mencabut cintaNya darimu?

Request #1



Dikenang atau Dilupakan

Saat jingga mencoba untuk kembali merobek kenangan. Sejak itu aku kembali takut, tidak lagi mampu melupakan bayang dirimu. Sedangkan malam siap menghantui. Dan bunyi jangkrik terasa semakin merobek hati. itu pertanda, aku tengah seorang diri.

Satu diantara pernak-pernik suatu pertemuan adalah sebuah kenangan. Bagaimana mungkin kenangan tidak terbentuk sedangkan memori manusia selalu merekam setiap detik yang di lewatinya. Itulah hebatnya otak manusia dibandingkan kecanggihan teknologi mutakhir sekalipun. Memori yang terekam tidak hambar rasanya, melainkan begitu banyak bumbu yang mewarnainya. Kenangan merupakan rekam jejak dari waktu yang telah dilewati.

Tidak ada satupun manusia yang tidak pernah mengenang apapun di dalam hidupnya. Baik suka ataupun tidak suka dengan kenangan yang telah dilaluinya. Kala hal itu menyenangkan untuk dirinya, maka Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk selalu mengingatnya. Bahkan tidak jarang kenangan itu dijadikan sebuah momentum atau monumen bersejarah. Begitulah saat kecintaan merasuki hati setiap manusia, fitrah memang.

Lantas bagaimana kenangan buruk itu?
Melupakan adalah satu-satunya cara menghapus segala memori tentang kenangan buruk itu. Namun sayang, tidak ada yang terlupa dari setiap kenangan yang telah terekam dengan indah. Saat rasa bahagia mengiringi setiap detik rekam jejak waktu yang pernah dilewati. Atau saat rasa menyakitkan menikam waktu yang tengah berputar. Karena setiap memori yang terekam tidak terlewati begitu saja, ada bumbu yang akan mewarnainya, yang akan membuatnya kuat tertanam diingatan setiap orang.

Bagaimana caranya melupakan? Saat akhirnya tidak ada lagi keinginan untuk menggenggam kembali kenangan yang menyakitkan. Cara terbaiknya adalah mengikhlaskan. Pada akhirnya kita akan mengalah dengan waktu. Menyisihkan kenangan demi kenangan. Ada bagian yang akan diingat dan ada yang harus ditinggalkan. Ikhlaskan saja apa yang pernah terjadi dalam dirimu, baik itu kenangan indah atau kenangan buruk sekalipun. Biarkan waktu yang akan membersamainya hingga ke muara terakhir, dikenang atau dilupakan.

Karena hidup...
Hanya tentang mengingat dan melupakan kenangan...
Atau mengikhlaskan semua berjalan apa adanya..

Al_izzah
Just to you m.d.s

Jumat, 26 Agustus 2016

Catatan Kegalauan #2



Mencintai Ketidaksempurnaan 

Malam ini, langit tidak seterang biasanya. Bintang pun enggan berkelap-kelip. Dan bulan lebih memilih untuk tenggelam dalam kesendirian. Bila aku harus menjadi bulan, entah apakah aku akan sanggup tersenyum sendiri di tengah gemuruhnya langit malam?
Bahkan siang ini, mentari tidak seperkasa biasanya. Ia lebih memilih mengintip dari balik gundukan langit berwarna hitam. Sesekali kilat mulai memainkan akrobat cahaya. Dan lagi-lagi gemuruh menambah keruh suasana. Bila aku harus menjadi matahari, entah apakah aku akan tetap perkasa di tengah gundukan awan hitam?

Lantas aku tidak pernah mau memilih menjadi keduanya. Aku selalu bermimpi berada di bawah bintang-gemintang atau di tengah bulan purnama. Aku selalu merasa bahwa langit biru esok akan baik-baik saja, tidak ada akrobat langit yang membuatnya tampak bersedih dan suram. Aku dan aku selalu berharap bahwa dunia akan selalu tampak indah di mataku.

Mereka bilang aku egois? Bahkan mungkin ada seorang di belahan bumi sana yang tak mampu menyaksikan indahnya pesona malam. Atau tidak mampu merasakan hangatnya mentari pagi. Tidak kuasa mendengar suara-suara kicau burung yang melantunkan lagu kedamaian. Dan tidak mampu bahkan membuka jendela pengap kamar bercat putih itu. Mereka bilang aku egois? Aku kira, mungkin aku tidak pernah tau bagaimana rasanya menjadi mereka.

***


Pagi ini, aku termangu dengan keindahan ciptaan Allah yang tidak sempurna. Ia ku temukan dalam kerumuan manusia yang berlomba-lomba dalam kebaiakan. Hari ini, semua mahasiswa memindahkan barang-barang mereka untuk menetap di asrama. Tidak ada yang aneh dari kegiatan yang sudah berlangsung selama dua hari belakangan ini. Tapi sosok pria itu mengalihkan fikiranku.

Ia berjalan dengan sedikit memicingkan kakinya. Tampak sigap mengangkat barang-barang adik perempuannya. Aku tidak menemukannya dihadapan ku. Ia memilih duduk di depan asrama ini. Selintas aku memerhatikan kondisi tubuhnya. Sempurna? Tampan? Jelas merupakan impian banyak laki-laki saat ini. Tampak gagah di hadapan wanita tercinta. Atau mungkin hanya sekedar lebih memaksimalkan kebermanfaatannya bagi keluarga pertamanya. Bukan maunya? Tapi Allah lebih mencintainya dalam ketidaksempurnaan fisiknya.

Aku lagi-lagi termangu. Sepintas fikiran memaksaku mengalihkan segala fokus. Lantas aku beristighfar. Jika selama ini aku membayangkan sosok parengan gagah nan tampan dan soleh meminangku kelak. Aku membayangkan sosok yang mandiri dan penuh tanggungjawab akan membawaku pada singgah sana dunia-akhirat. Namun, saat aku memandangnya. Lantas aku merasa sangat hina. Merasa sangat tidak pantas mengharapkan apa yang selama ini aku impikan.

Mencintai ketidaksempurnaan?

Aku hanya berfikir. Apakah ia juga mendambakan sosok bidadari idaman yang kelak akan menemani sisa waktunya? Sedangkan ia merupakan pangeran yang tidak seperti dongeng-dongeng di negeri impian? Ah.. jika aku menjadi ia. Mungkin aku tidak akan pernah membayangkan yang demikian. Bagiku sempurna bukan hanya dari yang tampak, namun dari apa yang tersembunyi. Dalam fitrah suci manusia. 

Ketidaksempurnaan fisik dan kesempurnaan hati. begitulah kisah cinderella dan pangeran yang mungkin diharapkan mereka (atau bahkan kita). Menanti seseorang yang mencintainya dengan cara yang sempurna meskipun ia tidak sempurna. Bagiku itulah keindahan yang sesungguhnya. Meskipun terkadang kita tidak mengerti bagaimana menemukannya.

Bagai punuk merindukan bulan.
Bahkan bulan, tidak pernah ingin seorang diri.
Jadilah punuk menjadi teman sehidup semati.

***

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)

Allah Maha Indah. Maha Sempurna Keindahannya. Sudah seharusnya manusia mencintai keindahan. Merenungi indahnya ciptaan-ciptaan Sang Khalik. Namun tidak melulu sesuatu yang indah itu harus sempurna (kecuali Allah SWT). Layaknya bulan yang indah, namun nyatanya ia tidak sesempurna keindahannya yang terlihat dari jauh. Atau layaknya gunung yang gagah tetapi ia menyimpan berjuta rahasia ketidaksempurnaannya. Lantas, apakah harus sempurna untuk menjadi indah?

Fitrah itu suci. Berasal dari muara yang awalnya bersih. Tidak tersentuh oleh kotoran-kotoran duniawi. Lantas, indah dipandangan adalah akibat dari kesucian nurani. Sehingga mencintai ketidaksempurnaan adalah bentuk keindahan sejati. Tidak ada makhluk yang sempurna kecuali Allah yang Maha Sempurna. Ini sebagai pelajaran bahwa tidak ada satupun makhluk yang mampu menandingi keindahan Sang Maha Pencipta jagat raya. Lantas, apakah bisa kita tidak mencinta? Sedangkan di dunia ini tidaklah ada manusia yang sempurna. 



Bidadari yang jauh dari sempurna,
Umi Azizah M (Al_izzah)